Langsung ke konten utama

KACANG LAGA : Si biji Besar dari Pulau Letti

Andriko Noto Susanto
Jogjakarta, 17 Juli 2011



Pulau Leti termasuk dalam gugusan kepulauan Lemola (Leti Moa Lakor) masuk wilayah kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku. Titik tengah Pulau ini berada pada 127°40'17,04"E & 8°11'49,18"S.  Secara administrasi seluruh wilayah masuk dalam kecamatan Pulau Leti dengan 7 desa/kelurahan yaitu Laitutun, Batumiau, Tutkey, Tomra, Nuwewang, Tutuwaru dan Luhulely. Pulau ini termasuk wilayah dengan aktivitas ekonomi relatif  maju seperti halnya Pulau Kisar. Ukuran Pulau Leti hampir sama dengan Pulau Kisar. Luas Pulau Leti hanya 9.230 ha, dengan keliling Pulau sekitar 45 km, didiami oleh sekitar 8.442 jiwa penduduk.  

Di Pulau ini terdapat satu jenis kacang tanah spesifik lokasi yang oleh masyarakat setempat di sebut “KACANG LAGA”. Kacang ini mempunyai ukuran polong dan biji lebih besar dibanding kacang tanah pada umumnya. Bobot 100 biji kacang laga adalah 77,8 gr sedangkan bobot 100 biji kacang tanah pada umumnya hanya 40, 8 gr. Kacang ini dapat dipanen setelah berumur 127 –130 hst.



Cabang-cabang kacang ini merayap di tanah, dan dari setiap bukunya dapat membentuk polong. Kalo kita cukup sabar, panen dapat dilakukan berkali-kali karena polong pada buku yang dekat batang utama biasanya sudah siap panen sementara pada buku bagian lebih ke ujung masih muda. Belum dilakukan uji kandungan unsur dalam kacang ini, sehingga dapat dibandingkan keunggulannya.
Diharapkan pemerintah daerah mengembang kan tanaman ini sebagai sumber pangan lokal yang memiliki nilai keunggulan komparatif dan kompetitif tinggi. Daya adaptasinya yang baik terhadap lingkungan iklim kering Pulau Leti merupakan keuntungan tersendiri dari pengembangan kacang laga ini. 




Komentar

  1. Habitat kacang laga tidak terbatas di Pulau Leti tapi menyebar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Maluku Barat Daya

    BalasHapus
  2. pak saya putra asli pulau leti,setelah saya membaca postingan bapak saya tertarik untuk memperbanyak postingan ini alias coppy paste,tapi sebelumnya saya minta izin kepada admin yang menulisnya(bapak sendiri)
    nama saya roger jacob

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Pak Jacob, terimakasih banyak atas perhatiannya,.. Silahkan saja Pak, semoga membawa manfaat baik buat masyarakat Pulau Leti pada khususnya. Salam kenal...

    BalasHapus
  5. kalau benihnya punya,. saya pesan pak. mau saya tanaman di Probolinggo Jatim, mungkin cocok

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBUAT LUMBUNG PANGAN BERSAMA ALAM : Cara cerdas masyarakat Kepulauan Tanimbar bertahan hidup

Andriko  Noto  Susanto  Jogjakarta, 19 Juli 2011 K epulauan Tanimbar merupakan wilayah darat terluas di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Pulau Yamdena luasnya mencapai lebih dari 500.000 ha merupakan pulau terbesar di kepulauan ini.   Sumber pangan (karbohidrat) tradisional masyarakat umumnya jagung, padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, umbi-umbian lain (uwi, gembili), pisang, dan sukun. Saat ini beras telah menggeser secara sangat nyata pangan tradisional tersebut karena mudahnya akses masyarakat terhadap beras melalui jalur perdagangan dan program pemerintah (beras raskin). Beras tersedia dengan sangat mudah di seluruh pelosok daerah dengan harga yang terjangkau, bahkan ‘gratis’.    Padi Hitam asli dari Tanimbar J auh sebelum beras (padi sawah) menggeser pola pangan tradisional, masyarakat asli memiliki cara bertahan hidup dengan cara bercocok tanam baik secara monokultur maupun polikultur. Padi lokal merah, padi hitam, jagung, kacan

MAJU BERSAMA ‘EMBAL’ DAN ‘KACANG BOTOL’ : Kisah Inspiratif Optimalisasi Lahan Kering Desa Debut, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara

  Andriko  Noto  Susanto Jogjakarta , 21 Juli 2011 Jalan utama Desa Debut D esa Debut terletak di kecamatan Kei Kecil, kabupaten Maluku Tenggara. Desa ini dapat dijangkau melalui jalur darat selama ± 45 menit dari Langgur dan ± 60 menit dari Kota Tual. Total luas desa sekitar 2.619,36 ha, terdiri dari hutan sekunder seluas 1.800 ha, perkebunan rakyat dengan pola campuran seluas 400 ha, lahan kritis/tandus seluas 250 ha dan sisanya adalah pemukiman. Embal Lempeng     ‘ K eperkasaan’ kaum hawa di desa Debut  tidak perlu diragukan lagi. Setelah kaum pria berhasil membuka hutan untuk perladangan, kaum perempuanlah yang secara aktif mengelola dari penanaman, penyiangan, panen, pascapanen, pengolahan hasil sampai siap dikonsumsi keluarga. Masyarakat berjibaku menaklukkan lahan kering agak berbatu, kekurangan air, dan gangguan hama (babi hutan) untuk bertahan hidup. Penyatuan masyarakat bersama alam dan cara ‘main otak’  kaum perempuan membawa desa Debut sukses berkembang menjadi