Jumat, 15 Juli 2011

TANAH, AIR & KEDAULATAN PANGAN


Andriko Noto Susanto
 15 Juli 2011

Kebiasaan menghargai sumur jika sudah kering airnya. Air tidak menjadi bagian yang harus kita fikirkan jika jumlahnya melimpah. Wilayah tropis kita problemnya hanya neraca, bagaimana melimpahnya air dimusim hujan dapat dikelola untuk musim kemarau baik secara alami maupun buatan. Tapi bisakah kita membayangkan satu oase digurun gersang yang eksistensinya merupakan jaminan kelangsungan mahluk hidup. Begitu berharganya oase, sampai  seringkali diriwayatkan  keterlibatan TUHAN didalamnya, menjadi perebutan dan darah ditumpahkan karenanya. Haruskah negara kita jadi gurun dulu baru kita bisa menghargai fungsi tanah sebagai komponen utama dalam siklus air.  Jadi selamatkan sumber air, melalui pengelolaan tanah secara baik.


Keberadaan sumber pangan kurang dihargai karena  kita selama ini kenyang (cukup makan) dan jarang ada kelaparan. Sejarah mencatat bahwa peradapan manusia yang maju selalu berasal dari wilayah subur yang mampu menjamin kecukupan pangan, sedangkan semua wilayah kering yang tanahnya tidak subur selalu mengalami musibah kelaparan. Tidak ada kemajuan apapun, jika manusia masih lapar. So, laparkanlah penduduknya, dan kuasailah wilayahnya, itulah strategi kejam manusia serakah tempo dulu untuk menjajah dan masih berlaku hingga saat ini dengan cara yang berbeda. Tanah yang subur sekali lagi menjadi syarat utama menjamin kecukupan pangan.  Jika demikian, masihkah kita berfikir untuk tidak mengelola dengan baik kesuburan tanah  hanya kerena saat ini kita masih kenyang??  Atau haruskah kita nikmati sumber pangan berlimpah kita dengan terus berkembangbiak tak terkendali sampai akhirnya fungsi pangan menyeleksi siapa yang mampu bertahan??. 



Jadi sudah seharusnya bahwa negara beserta rakyatnya berhak untuk melindungi dan menentukan sendiri kebijakan pangannya dengan memprioritaskan produksi pangan lokal untuk kebutuhan sendiri, menjamin penguasaan petani atas tanah subur, air, benih, termasuk pembiayaan untuk para buruh tani dan petani kecil, serta melarang adanya praktek perdagangan pangan dengan cara dumping. Dengan cara ini kita memiliki kedaulatan pangan. Petani diberi jaminan untuk menguasai tanah-tanah subur, tidak boleh diganggu gugat. Jadi ayo kita petakan kesuburan tanah kita sebagai dasar menjamin hak petani atas produksi pangan.

Penurunan kemampuan tanah dalam mendukung kecukupan pangan adalah nyata. Evaluasi jangka panjang terhadap penelitian kesuburan tanah menunjukkan bahwa tanah ini  harus mampu memproduksi pangan sebesar 2-3 kali lebih besar dari produksi maksimum untuk menjamin 10 milyar manusia tetap eksis. Namun yang terjadi adalah produktivitas padi pada kondisi kesuburan asli tanah dari tahun 1965 - 1995 menurun drastis (8 ton/ha pada tahun 1970 menjadi hanya 4 ton tahun 1995). Ini bukti nyata telah terjadi penurunan kualitas tanah. Sejauh ini masalah tersebut dapat diatasi dengan teknologi pemupukan. Dengan menambahkan pupuk N,  produktivitas padi sawah dapat dijaga antara 9 – 10 ton/ha pada 15 tahun terakhir ini. Kondisi ini diperparah dengan alih fungsi lahan yang semakin tidak terkendali. Pada tahun 1999 – 2003 saja, neraca luas lahan sawah Indonesia sudah negatif 423.857 ha. Penggantian lahan baru di luar pulau Jawa membutuhkan luas 2,2 kali lebih besar karena perbedaan status kesuburan tanah pada tingkat produksi yang sama.
 

Bagaimana dengan dampak pemanasan global terhadap produksi pangan.  Pemanasan global yang terjadi sekarang ini disatu sisi berdampak positif terhadap produktivitas tanaman pangan di wilayah temperate, grasslands dan tundra karena berdasarkan analisis-meta di lebih dari 12 lokasi penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu kurang dari 3 derajat celcius akan meningkatkan respirasi tanah sebesar 20%, meningkatkan laju mineralisasi bersih N 46%, dan produktivitas tanaman meningkat 19%. Namun didaerah tropis seperti Indonesia yang terjadi adalah peningkatan laju dekomposisi bahan organik tanah sehingga mempercepat kehilangan bahan organik dari dalam tanah. Artinya status kesuburan tanah akan terus menurun dan tanah kita berproses menjadi gurun....  

Kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah ALLOH  turunkan air hujan di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi SUBUR dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan  yang indah” (QS Al-Hajj 22:5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar