Jumat, 15 Juli 2011

TANAH PULAU KISAR : Kesuburan yang terawetkan secara alamiah

 
Andriko  Noto  Susanto
Jogjakarta, 16 Juli 2011


Pulau Kisar terletak di wilayah kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dapat ditandai pada posisi geografis 8°3'29.24"S - 127°10'33.56"E. Pulau ini masuk kecamatan PP. Terselatan dengan ibukota Wonreli, merupakan wilayah paling aktif di kabupaten ini. Dari kota inilah saat ini pemerintahan kabupaten  dikendalikan. Ukuran pulau ini sangat kecil, jarak Utara – Selatan hanya 10,4 km; jarak terjauh dari Timur – Barat adalah 10,22 km; luas 8.500 ha dan keliling pulau sekitar 37 km. Hanya perlu sekitar 40 menit untuk mengelilinginya dengan speedboat jika kecepatanya  60 km/jam. Namun pulau ini dihuni oleh sekitar 18.425 penduduk yang terbagi dalam 12 desa/kelurahan dan termasuk paling padat di MBD.

Pulau ini merupakan daerah angkatan coral reef (batu kapur koral) pada kala polistocean dengan umur sekitar 1 juta tahun. Keunikan dari pulau ini adalah bentuknya seperti ‘mangkok’ bagian tengah merupakan hamparan tanah relatif subur (4.000 ha) dikelilingi oleh teras karang berbatu (4.500 ha) yang berfungsi sebagai ‘benteng’. Kesuburan tanah ‘terjaga’ dan ‘terselamatkan’ karena erosi tanah dapat dikendalikan oleh bentukan alam, dan terseleksi hanya melalui sekitar 15 titik alur alami yang bermuara ke laut. Selain itu curah hujan yang hanya 1.102 mm yang berlangsung hanya sekitar 5 bulan selain menjadi faktor pembatas pertumbuhan juga merupakan pengendali erosi yang efektif. Benteng karang ini juga berfungsi menyelamatkan tanaman dari efek plasmolisis uap air laut.

 
Semua wilayah datar dibagian tengah pulau saat ini telah menjadi areal pertanian yang sangat produktif. Pulau Kisar adalah penghasil jagung paling besar, dan padi ladang tebesar kedua setelah Wetar di MBD. Dari kedua komoditas inilah masyarakat asli hidup dan bergaul dengan alam secara ramah dan  santun selama ratusan tahun. Pertanian organik diterapkan secara turun temurun.
 Petani-petani di Pulau Kisar menerapkan sistem usaha tani yang masih sederhana. Persiapan lahan dilaksanakan pada awal musim hujan (Nopember–Desember), yaitu dengan membenamkan gulma ke dalam tanah (prinsip pertanian organik sederhana). Selain dibenamkan sisa-sisa serasah dikumpulkan di petak-petak pertanaman kemudian dibakar menjelang penanaman. Setelah 2-3 hari  dilakukan penanaman dengan cangkul sebagai alat membuat lubang tanam.
 

Jagung ditanam pada jarak 75 x 40 cm, satu lubang ditanami empat benih jagung dan dua benih kacang merah atau kacang hijau.  Dari empat jagung yang tumbuh, dua diantarannya akan dipanen muda (70 hst) untuk keperluan konsumsi dalam bentuk jagung rebus, bubur jagung yang dicampur dengan kacang merah dan labu. Sedangkan dua sisanya dibiarkan sampai tua (100 hst), kemudian dipanen dan dipipil  untuk disimpan di dalam drum atau ‘bising’ yang terbuat dari daun Koli (sejenis Lontar). Jagung kering tersebut digiling dan dijadikan nasi jagung (campuran jagung dengan beras) dan untuk makanan ringan (campuran jagung dengan kacang tanah disangrai dengan pasir). Petani tidak pernah melakukan pemupukan  dan pengendalian OPT, namun petani melakukan pemangkasan bunga jantan untuk makanan ternak yang sekaligus tanpa sengaja melakukan pengendalian hama secara hayati.  Pemangkasan bunga jantan ini dapat menekan daya tarik hama kumbang penggerek batang dan tongkol jagung.

Namun akhir-akhir ini tekanan lahan telah melampaui kemampuannya yang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap eksistensi pulau ini. Tekanan pembangunan infrastruktur setelah pembentukan kabupaten BMD telah mengeser peran fungsi lahan pertanian dan berpotensi meningkatkan laju erosi karena berkurangnya daerah resapan air.  Jumlah penduduk yang semakin besar juga telah berdampak pada lebih intensifnya pemanfaatan lahan sehingga tidak ada lagi areal konservasi. Pulau ini sangat unik dan cocok dijadikan model pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil dengan menerapkan sistem pertanian organik yang berimbang. Hal-hal yang harus diperhatikan dari pulau kecil ini adalah :
  1. Rentan terhadap pemanasan global yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut, sehingga luas daratannya semakin berkurang,
  2. Sumberdaya alamnya terbatas dan berpotensi untuk dilakukan eksploitasi berlebihan. Dalam batasan tertentu karena keunikannya ‘tanah’ di Pulau Kisar dapat dimasukkan  sebagai sumberdaya alam yang harus dilindungi kesuburannya
  3. Peka terhadap erosi dan bencana alam seperti  gunung berapi, gempa bumi dan tsunami,
  4. Terbuka untuk sistem ekonomi skala kecil, namun sangat peka terhadap kejutan pasar dari luar dalam skala yang lebih besar.
Diperlukan desain wilayah secara teliti untuk memberdayakan Pulau Kisar. Areal karang berbatu dengan luas 4.500 ha dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembangunan infrastruktur tanpa mengganggu daerah subur di bagian tengah pulau. Alur-alur alami maupun aliran sungai ditata untuk dihijaukan sebagai daerah konservasi. Dan pantai pasir putih yang indah diberdayakan sebagai kawasan wisata. Teknologi desalinasi air laut dapat diterapkan dengan memanfaatkan energi panas matahari dan angin pada daerah karang  ‘benteng’ pulau.  Areal pertanian dilindungi beserta petaninya dan diberi akses yang memadai untuk menjaga eksistensi pertanian organik pulau Kecil.

Citra Satelit by Google Earth. Foto-foto by Alex J. Rieuwpassa

8 komentar:

  1. pak, saya menyukai tulisan bapak...Kisar adalah tanah kelahiran leluhur dari ibu saya...boleh tanya dimana data2 valid tentang pulau ini bisa di dapatkan?mis; data curah hujan...karena saya sedang menulis tesis tentang air di pulau ini dan sedang kesulitan mendapatkan data2nya...terimakasih....hormat saya, Hana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ibu, Silahkan saja data-data apa yang dibutuhkan, jika ada disaya nanti diemail. Salam Kenal. Tk

      Hapus
  2. terimakasih atas perhatian Bapak...
    dari semua tulisan yang mampu saya telusuri lewat internet,hanya tulisan-tulisan Pak ANdriko yang cukup lengkap tentang karakteristik Pulau Kisar...saya sendiri baru 1 kali ke Pulau Kisar di awal 2012 ini...dan tidak berhasil mendapatkan data (utamanya peta) yang dapat mendukung penelitian saya untuk tesis Sistem Penyediaan Air Minum di Pulau Kisar, bahkan untuk penelitian awal pun tidak ada peta desa, administratif atau sebaran penduduk yang tersedia...jika Bapak berkenan, dapatkah menghubungi saya di hannasinggih@gmail.com sekiranya ada informasi tentang peta atau apapun yang menurut Bapak Andriko dapat mendukung penelitian saya?terimakasih atas perhatiannya

    Hormat saya,

    Hanna Singgih

    BalasHapus
  3. pak, mau tanya, apakah bapak memiliki data peta kontur dan administratif pulau kisar?terimakasih atas perhatiannya..

    hormat saya,

    Hanna

    BalasHapus
  4. terima kasih Pak atas artikelnya,,, sangat menarik.

    BalasHapus
  5. Terimakasih Mey... Salam Kenal dan Selamat Berkarya...

    BalasHapus
  6. Tidak banyak artikel tentang pulau Kisar yang membahas tentang kehidupan sehari hari seperti bercocok tanam.

    Pulau Kisar masuk dalam daftar pulau pulau terluar yang ingin saya kunjungi.

    Apakah di pulau Kisar masih ada bangunan tradisional seperti rumah adat yang tersisa dan masih digunakan sehari hari atau atau objek yang memiliki nilai kebudayaan seperti yang ada di Tanimbar dengan kapal batu nya ?

    Terima kasih atas artikel anda.

    Salam dari Vienna, Austria
    Subagio Rasidi Kusrini (etoy)
    www.kusrini.net

    BalasHapus
  7. Banyak sekali obyek budaya di Kisar yang barang kali tidak menarik bagi yang tidak mengetahui. Jika Bapak kesana saya yakin banyak hal yang dapat digali selain kulturnya yang sangat eksotik. Keramahan masyarakat, local wisdom, indigenous knowledge dan beberapa peninggalan sejarah merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Selain itu pulau-pulau terluar disekitarnya seperti ROmang, Leti, Moa dan Lakor juga memiliki beragam keunikan yang boleh jadi memiliki ekonomi tinggi tinggi seperti pala lokal romang, madu romang, kerbau Moa, dll. Silahkan dikunjungi dan diberitakan ke khalayak hasilnya. Terimakasih atas perhatiannya.

    BalasHapus