Langsung ke konten utama

Agroecological Zone In Mollucas Archipelago

Andriko Noto Susanto


      Three main requirements to do a feasibility farming is (1) The biophysical supported by the availability / suitability of land that could potentially obtain high productivity and decrease risk of environmental damage (2) Socially acceptable to society, can be cultivated and the impact on increasing employment in order to reduce the number of unemployed and (3) The economic benefits that have an impact on increasing income and welfare of the community. In connection with this matter, BPTP Maluku under the direction of World Bank consultants develop Agroecological Zone Map scale 1: 250,000 for the whole of the Mollucas and North Mollucas provinces. In this map restricted to some areas of plantation farming, agriculture, wetlands, upland farming, pasture, forestry, agro-forestry, coastal forests and coastal fisheries.

The results of this work is stored in the form of maps, available at author and BPTP Maluku, and five books :
  1. Potential Alternative Land Agricultural Commodities and Their Chosen by agroecological zone maps in Every District in Buru. BPTP - Maluku. 2003 (Susanto, A.N and S. Bustaman),
  2. Potential Alternative Land With Selected Agricultural Commodities base on the agroecological Zone Map in Each District in Southeast Maluku. BPTP - Maluku 2003 (Susanto, A.N and S. Bustaman),
  3. Potential Alternative Land Agricultural Commodities and Their Chosen by agroecological zone maps in Every District in West Southeast Maluku. BPTP - Maluku 2003 (Susanto, A.N and S. Bustaman),
  4. Potential Alternative Land With Selected Agricultural Commodities Based on the agroecological Zone Map Every district in Central Maluku. BPTP - Maluku 2003 (Bustaman, Susan S. and A.N Susanto),
  5. Land and Their Potential Alternatives Selected Agricultural Commodities Under the agroecological Zone Map in Each District in Ambon City. BPTP - Maluku 2003 (Bustaman, S. and A.N Susanto).

A total of 300 pieces of printed books for each title has been absorbed by policy makers, students and academics, but the archives are still available at the Library of BPTP Moluccas and the author.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KACANG LAGA : Si biji Besar dari Pulau Letti

Andriko Noto Susanto Jogjakarta, 17 Juli 2011 P ulau Leti termasuk dalam gugusan kepulauan Lemola (Leti Moa Lakor) masuk wilayah kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku. Titik tengah Pulau ini berada pada 127°40'17,04"E & 8°11'49,18"S.  Secara administrasi seluruh wilayah masuk dalam kecamatan Pulau Leti dengan 7 desa/kelurahan yaitu Laitutun, Batumiau, Tutkey, Tomra, Nuwewang, Tutuwaru dan Luhulely. Pulau ini termasuk wilayah dengan aktivitas ekonomi relatif  maju seperti halnya Pulau Kisar. Ukuran Pulau Leti hampir sama dengan Pulau Kisar. Luas Pulau Leti hanya 9.230 ha, dengan keliling Pulau sekitar 45 km, didiami oleh sekitar 8.442 jiwa penduduk.   D i Pulau ini terdapat satu jenis kacang tanah spesifik lokasi yang oleh masyarakat setempat di sebut “KACANG LAGA”. Kacang ini mempunyai ukuran polong dan biji lebih besar dibanding kacang tanah pada umumnya. Bobot 100 biji kacang laga adalah 77,8 gr sedangkan bobot 100 biji kacang tanah pada umumnya

MEMBUAT LUMBUNG PANGAN BERSAMA ALAM : Cara cerdas masyarakat Kepulauan Tanimbar bertahan hidup

Andriko  Noto  Susanto  Jogjakarta, 19 Juli 2011 K epulauan Tanimbar merupakan wilayah darat terluas di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Pulau Yamdena luasnya mencapai lebih dari 500.000 ha merupakan pulau terbesar di kepulauan ini.   Sumber pangan (karbohidrat) tradisional masyarakat umumnya jagung, padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, umbi-umbian lain (uwi, gembili), pisang, dan sukun. Saat ini beras telah menggeser secara sangat nyata pangan tradisional tersebut karena mudahnya akses masyarakat terhadap beras melalui jalur perdagangan dan program pemerintah (beras raskin). Beras tersedia dengan sangat mudah di seluruh pelosok daerah dengan harga yang terjangkau, bahkan ‘gratis’.    Padi Hitam asli dari Tanimbar J auh sebelum beras (padi sawah) menggeser pola pangan tradisional, masyarakat asli memiliki cara bertahan hidup dengan cara bercocok tanam baik secara monokultur maupun polikultur. Padi lokal merah, padi hitam, jagung, kacan

MAJU BERSAMA ‘EMBAL’ DAN ‘KACANG BOTOL’ : Kisah Inspiratif Optimalisasi Lahan Kering Desa Debut, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara

  Andriko  Noto  Susanto Jogjakarta , 21 Juli 2011 Jalan utama Desa Debut D esa Debut terletak di kecamatan Kei Kecil, kabupaten Maluku Tenggara. Desa ini dapat dijangkau melalui jalur darat selama ± 45 menit dari Langgur dan ± 60 menit dari Kota Tual. Total luas desa sekitar 2.619,36 ha, terdiri dari hutan sekunder seluas 1.800 ha, perkebunan rakyat dengan pola campuran seluas 400 ha, lahan kritis/tandus seluas 250 ha dan sisanya adalah pemukiman. Embal Lempeng     ‘ K eperkasaan’ kaum hawa di desa Debut  tidak perlu diragukan lagi. Setelah kaum pria berhasil membuka hutan untuk perladangan, kaum perempuanlah yang secara aktif mengelola dari penanaman, penyiangan, panen, pascapanen, pengolahan hasil sampai siap dikonsumsi keluarga. Masyarakat berjibaku menaklukkan lahan kering agak berbatu, kekurangan air, dan gangguan hama (babi hutan) untuk bertahan hidup. Penyatuan masyarakat bersama alam dan cara ‘main otak’  kaum perempuan membawa desa Debut sukses berkembang menjadi